Minggu, 09 Maret 2014

Mengawal perjalanan Raja Sang Naualuh Damanik

Mengawal perjalanan Raja Sang Naualuh Damanik

Foto : Master Plan Monumen Raja Sang Naualuh bersama perancang, arsitek Hotman Damanik dan pematung Robinson Damanik
Apakah Raja Sang Naualuh memiliki sifat keras kepala ? Mengapa ia tidak langsung saja membubuhkan tanda tangan nya di atas kertas korte verklaring yang ditawarkan kompeni Belanda ? Dengan demikian terbebas dari urusan yang bersifat interogasi, persidangan dan tawanan.
Tercerabut dari akar rakyat dan bumi habonaron adalah hal yang paling menyedihkan bagi Raja Sang Naualuh. Hal yang sangat menyiksa karena keseharian, semangat dan jiwa sudah tertanam di tanah simalungun, bertahun tahun menyatu dengan nafas dan cita cita nya. Tentu sudah ada gagasan besar dalam benak Raja Sang Naualuh untuk mendirikan, membangun dan memajukan Harajaon Siattar, tanah turun temurun yang diwariskan oleh ayahnya, Raja Mapir Namatua Damanik. Namun, kehendak tersebut di rampas begitu saja dengan campur
tangan pemerintah Belanda. Penyerahan hak tanah kepada Belanda. Di mana kah kebebasan dan kewenangan mengelola tanah air sendiri ?
Dalam pengasingan di wilayah afdeling Bengkalis, sakit itu bertambah. Tatapan nya masih tertuju kepada tanah simalungun. Sejenis penyakit mendera tubuh nya tepat di bagian leher. Mr. Djariaman Damanik mengisahkan, penyakit Raja Sang Naualuh lahir dari penderitaan dan kesedihan yang di alami nya. Puncak dari keteguhan hati, Sang Naualuh masih memberikan pesan kepada rakyat nya agar tetap bersatu sebagai orang simalungun melawan Belanda, tertulis di balik foto yang dititipkan kepada keluarga saat datang menjenguk. Ia masih ingin bertanya kabar tentang simalungun.
Lalu, Monumen Raja Sang Naualuh di bangun untuk apa ?
Sebuah isyarat bagi generasi muda untuk mengembalikan cita cita dan perjuangan. Tapi bukan soal kedaulatan wilayah lagi, sebuah tugas untuk menjejakkan identitas simalungun agar tetap terjaga di bumi habonaron. Kita harus bisa menegaskan wilayah Siantar sejak mula identik dengan orang simalungun, si pukkah huta – si mada talun, dengan segenap sejarah dan ciri khas budaya nya. Heterogenitas di tambah dengan trend zaman tidak pelak akan menjadi sebuah arus baru bagi generasi muda hingga perlahan wajah Siantar terlupakan dari sejarah, identitas dan kekayaan budaya simalungun sebagai pendiri nya.
Jika saja Raja Sang Naualuh bersedia menandatangani korte verklaring, ia tidak akan sampai di Bengkalis, bukan ? Simalungun punya harga, harga diri yang dibangun dari sebuah pendirian kokoh, teguh, dan tak tergoyahkan. Berjuang itu indah, serta selalu akan di kenang.

0 komentar:

Posting Komentar

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com