Minggu, 09 Maret 2014

MUTIARA HITAM


MUTIARA HITAM
 oleh David EP.
Bah Bolon mengalir dengan deras. Bersama turunnya embun pagi, kesejukan pun menyebar ke semua tempat.
Hutan dan bumi adalah rumah kami, sahabat yang melindungi kami dari kemuliaan sang Surya. Meski, dari sang Surya sendirilah berasal kekuatan untuk tubuh dan pikiran kami agar bisa meneguk aliran sungai kehidupan ini dengan luwes.
Kisah ini adalah gambaran kehidupan itu sendiri. Bermula dari sebuah lembah yang terhampar luas, sejuk dan indah. Manusia menyebutnya surga di bumi!
Entah sudah berapa masa kehidupan kami tinggal di sini, bersama ayah dan ibu. Mereka juga adalah ayah dan ibu kita semua. Orangtua manusia…
Tolong…, janganlah lupakan kisah ini. Ini adalah kisah tentang kita.
Seiring perjalanan waktu, semenjak peristiwa itu, kami telah membangun batas-batas rumah, pekarangan dengan tembok kokoh. Drama pertengkaran telah terjadi di antara kami. Kami, tujuh bersaudara telah disergap keangkuhan.
Lembah tua yang indah ini, tidak lagi damai bagi kami. Sesungguhnya semua ini kami warisi dari kedua orangtua kami. Usia kami sudah ratusan bahkan ribuan tahun. Ibu – Sang Waktu, telah memberkahi kami selalu terlihat bagai kanak-kanak. Ada yang menyebut kami anak-anak Sang Waktu.
Ketahuilah, kalian adalah anak cucu kami. Kalian memang telah berdiam di setiap jengkal sudut bumi ini. Adakah kalian tahu dan ingat hal ini, wahai anak-cucuku?
Kami, tujuh bersaudara pun telah tersebar di seluruh penjuru arah! Semua ini disebabkan keangkuhan dan pertengkaran itu…
Wahai anak-cucuku, dengarkanlah kisah ini.
Ketika itu…
Pada masa kami masih kecil dan polos, ayah dan ibu sering mengajak kami bermain di sini, di lembah ini. Itulah saat terindah kami. Mereka berdua adalah dewa-dewi kami. Senang sekali bisa mempersembahkan tujuh rupa kembang dan buah-buahan bagi mereka berdua. Tidaklah sulit melakukan itu, sebab kami sangat disayang Ibu Bumi. Ibu Bumi yang cantik dan senantiasa bermurah hati.
Ibu sering menyusui kami dengan cerita-cerita surgawi. Anehnya, setiap tokoh yang diceritakan, kerap hadir mengunjungi rumah kami. Mereka hadir! Mewujud! Hingga kami tidak bisa membedakan mana yang khayal atau nyata.
Ibu berkata, “Dengan Cinta, Ia Yang Maha Misterius dapat hadir melalui selaksa wujud. Tinggal haturkan sejumput kembang, setetes wewangian dan seikat lantunan kidung Cinta.” Demikian Ibu dan Ayah sering berpesan.
Setiap kunjungan mereka, manusia cahaya itu senantiasa memberi kami berbagai kepandaian, hiburan dan kesukaan lainnya. Semuanya diberikan karena kasihnya pada kami. Hingga kami tak sadar, pada suatu ketika… sebuah “mutiara hitam” tersembur dari dalam perut bumi.
Lalu apa yang terjadi?
Kami memperebutkannya. Entah kenapa, tiba-tiba muncul keegoisan, keangkuhan di kepala kami. Padahal kami tidak mengenal apa itu friksi, perpecahan, perbedaan, ketamakan. Namun, semuanya perlahan berubah. Padahal hal itu tidak pernah mengganggu pikiran kami.
“Ini ‘milikku’.”
“Itu ‘karenaku’,” suara-suara kami saling menengking dan beradu.
Ibu berusaha mengingatkan. Tetapi kami berkilah, “Tak apa-apa, Bu. Biarlah kami tetap bermain.”
Menurutku itu hanyalah sebuah batu kecil yang tidak berharga. Bentuknya saja tidak sebanding dengan emas dan permata yang begitu indah dan mudah kami dapatkan. Kami terus mempermainkan benda aneh itu. Tanpa kami sadari benih ketidakpercayaan mulai menjalar, dan menggenang di dasar hati. Pikiran menjadi haus akan segala kekayaan. Benda-benda itu menjadi bermakna lain. Padahal selama ini kami mempersembahkan emas dan berlian mulia bagi ibu dan ayah begitu mudahnya. Kini, benda itu semua kami simpan dan perebutkan. Inilah awal perpisahan kami. Kami pun hidup hanya untuk urusan memperebutkan mutiara hitam itu.
Itulah penyebab utama semua kejadian ini. Ibu dan ayah sedih.
Berbagai cara kami tempuh ‘tuk menyembuhkan penyakit ini. Namun gagal, karena kami berkeinginan lain. Pandangan kami mulai kabur. Seiring dengan langkah-langkah sang Waktu yang kadang cepat dan lambat, penglihatan kami perlahan tidak bisa lagi menyadari kehadiran ayah-ibu. Sayup-sayup terkadang suara mereka terdengar. Setitik embun kerinduan membasahi kaki kanan kami untuk mencari, mengejar mereka. Mereka raib.
Ke gunung, tepi pantai, samudera, ke kota-kota megah yang pernah kami dirikan pun tidak ada. Ayah-ibu tidak ada di sana.
Dimanakah engkau Ibu? Ayah… ?
Kami mulai saling menyalahkan. Peperangan kerap terjadi.
Inilah asal muasal kenapa kami mendirikan benteng di depan rumah kami masing-masing. Sudah tidak ada lagi manisan ‘saling percaya’ di antara kami.
Marak sudah perdagangan “informasi” akan keberadaan ibu dan ayah.
Anak cucu pun sulit dipercayai. Karena mereka sendiri belum pernah bertemu makhluk surgawi yang berwajah cahaya itu.
Sisa kenangan indah itu kami bawa jauh hingga ke dalam kumparan permaian sang Kala. Hanya itu harta yang kami miliki. Ketakutan pun mulai timbul karena anak-cucu kami justru mengincar mutiara hitam itu juga. Tampaknya mereka lebih rakus dan buas dibanding kami. Terkadang licik. Bagai kawanan hewan yang baru menjadi manusia saja. Mereka menuding kami dengan tuduhan yang aneh-aneh. Kalian kafir, pengkhayal, hidup dalam kedustaan! Hati kami terbakar dan tetesan butiran lidah api menjalar dari sudut mata.
Kami bertujuh tidak saling menyapa lagi. Akhirnya satu-persatu saudara-saudaraku pergi meninggalkan lembah indah ini ‘tuk mencari keberadaan ibu dan ayah yang raib. Mereka mencari lewat jalan ciptaan masing-masing. Tinggallah aku sendiri yang tersisa. Aku tak kuasa meninggalkan lembah sejuta kenangan ini.
Suatu ketika aku memberanikan diri mendaki bukit perbatasan menyaksikan anak cucu kami di seberang seribu gunung. Bilah-bilah air mata yang tersisa jatuh membasahi pipiku. Di kejauhan, aku melihat awam hitam menggantung di langit biru. Kadang langit memang terlihat biru, bening dan kadang berawan, ah… sudahlah, itu tidak penting. Aku melanjutkan perjalananku saja.
Aku menyaksikan Dvipantara dinaungi awan gelap kebodohan. Kusaksikan saung-saung tempat kami biasa menjamu ibu dan ayah kini tidak dihargai lagi. Tanduk Banua, Gunung Mariah, Dolog Singgalang, Muara Jambi, Kuil Sipamutung, Borobudur, Prambanan, kuil Dieng… hanya dianggap batu bisu semata.
“Berhala!!!!!!” kutuk mereka…
“Bodoh,” tangisku dalam hati. Aku sadar semua ini karena kesalahanku juga.
Mereka menganggap diri mereka ‘keturunaan’ dari saudara kami dari benua lain. Padahal aku di sini di antara yang tersisa masih berdiri menanti. Akulah nenek-moyang mereka. Bagaimana ini bisa terjadi? Semua telah mereka bumihanguskan. Mereka membenci masa lalunya. Generasi terdahulu telah mereka cap kafir, murtad! Meski hukuman telah mereka terima; umur pendek dan kebutaan hati.
Tidak apa.
Kebenaran toh datang dari segala penjuru. Termasuk titipan salam dari negeri Ibrahim. Tak apa, asal mereka masih memiliki niat hendak mengundang manusia berwajah cahaya itu. Kucoba memberitahu, bahwa mereka masih memiliki darah yang dibalut kulit yang pernah bersentuhan dengan kulit lembut, Ibuku. Namun aku dikatakan ngawur, pendusta, dan gila.
“Kalian adalah anak-anak pelangi yang bercahaya!” seruku.
“Kita bisa memperbaikinya asal permata hitam yang kalian simpan itu dibuang…” teriakku membahana bersama angin yang sulit menembus masuk telinga mereka yang terbuka.
Tak seorang pun mendengarnya.
Mereka asyik bermain dalam kubangan lumpur ketaktahuan. Mereka memuja tokoh-tokoh pujaan yang berkulit dan berjubah asing saja. Mereka lupa…!!!
Uuh, aku melangkah gontai menuju puncak bukit menunggui ayah-ibu agar sudi menuntun tanganku lagi.
Aku merindukan-Nya!
Tidak. Tidak… Yang kutunggui adalah kebaikan ayah dan ibu agar berkenan membuka selaput penutup mata anak-cucunya, agar ingat siapa mereka sebenarnya!
Bah Bolon masih mengalir dengan deras…

0 komentar:

Posting Komentar

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com