Rabu, 27 Februari 2019

Melawan Bosan


Horas
                Menngakhiri bulan januari di tahun ini tidak seru rasanya jika hanya diam dirumah menatapi kebosanan yang hqq. Ide untuk membuka jalan di salah satu bukit daerah dolok saribu pun kembali muncul didalam pikiran saya, tapi itu benar benar butuh persiapan sepertinya lain kali saya akan merencanakan lebih matang tentang hal itu.


30 januari, h-1 untuk mengakhiri bulan ini. Seperti biasa
melawan bosan dirumah saya pergi untuk nongkrong di salah satu warkop langganan saya, warkop kubik namanya dan pastinya sendirian lagi. Saya menghubungi sepupu saya Hanz untuk datang sepulang ia sekolah dan juga teman teman saya yang lainnya. Beberapa jam meratapi kesendirian di sudut warkop bertemankan laptop dan kopi akhirnya Hanz datang memamerkan kamera barunya, selang waktu hanz datang akhirnya hendra, junaldo, dan juga dodi pun juga datang meruntuhkan suasana hening di warkop, lawak lawakan dodi kembali membuat warkop dikuasai oleh gelak tawa kami. Kemudian rencana untuk membuka jalur di dolok saribu yang tadinya masih wacana saya dengan hanz pun saya utarakan, barangkali mereka bertiga mau ikut dengan kami piker saya. Namun, tak mau terlalu mengambil resiko mereka pun menolak dan mengajak saya untuk membunuh rasa bosan ke salah satu tempat di kota pematangsiantar yang pernah saya datangi bersama teman saya marnala. Mereka tertarik dengan tempat itu karena cerita dan foto saya yang mengabarkan bahwa sunset ditempat sangat indah.

                Kami melaju menggunakan 2 motor, hanz menyusul katanya. Sesampainya di simpang marihat kami pun teringat bahwa kami tidak membawa kamera. Karena rumah hendra tidak terlampau jauh maka kami pun memutar arah untuk mengambil kamera terlebih dahulu di rumah hendra. Setelah dari situ kami kembali melanjutkan perjalanan.

                Tempat yang kami tuju kali ini adalah daerah persawahan yang tidak jauh dari pohon cinta yang cukup terkenal dikalangan anak muda di kota siantar, konon katanya kalau kita mengukir nama kita dan pasangan kita dipohon tersebut, maka besar kemungkinan kita akan berjodoh dengannya. Kembali ke perjalanan, selama diperjalanan kami melihat lihat mana tau ada tempat keren lainnya. Dan memang benar, sebuah sungai menghentikan langkah kami, indah sekali pikir saya. Kami pun turun kebawah, tapi kami dilarang melewati jalur itu oleh sepasang pasutri yang kebetulan mau berladang di dekat sungai it, lalu kami ditunjukkan jalannya. Kami pun menggunakan jalan yang ditunjukkan oleh sepasang pasutri tersebut. Memang indah, bukan hanya dari kejauhan saja ternyata, aliran sungai menyeret dan menguji kuda kuda kami. Kamipun berfoto ria dan menikmati suara aliran air yang cukup deras itu sampai tak terasa jam sudah menyuruh kami untuk bergegas pulang ditambah lagi saya baru saja mimpi digigit ular malamnya. Jadi kamipun bergegas pulang menuju rumah hendra.
Sesampainya dirumah hendra kami mengobrol sejenak sembari membagikan foto foto yang kami ambil tadi.
Salam lestari!!!




0 komentar:

Posting Komentar

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com