Senin, 28 Januari 2019

Kam Kira Kidu-kidu?


Tabik!!!
Seperti tidak konsisten dalam menulis di blog ini, itulah yang saya rasakan. Saya kembali menulis bermula dari seorang kawan lama bernama eka yang iseng iseng membuka laman blog saya, lalu ia memberitahu hal hal yang ia temukan di blog saya. Setelah itu, saya pun berpikiran untuk mulai menulis kembali.
Kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan saya mengelilingi samosir dan setengah lingar cincin danau toba. Dasar
perjalanan kami ini berawal dari gagalnya perjalanan saya dan kawan saya dodi dan juga hendra untuk mendaki. Lalu kami pun kembali melakukan perencanaan ulang perjalanan kami. Dalam perjalanan saya kali ini, saya bertemu dengan orang orang mengagumkan yang dikenalkan oleh hendra dan dodi, dan mereka adalah yudha, junaldo, dan johan. Kali ini kami akan pergi ber enam. Awalnya saya, dodi, hendra, yudha, dan junaldo merencanakan akan pergi mendaki kesibayak bersama, tetapi dikarenakan teman kami johan sudah pernah mendaki kesana, dia pun menolak dan menawari kami untuk pergi mengelilingi samosir. Awalnya saya sedikit tidak setuju karena saya sudah pernah mengelilingi samosir tahun lalu, begitu juga dengan teman saya dodi. Tapi, kawan kawan yang lain tampak setuju dan akhirnya saya dan dodi pun harus mengalah, “yang penting kami sama sama” pikir saya. Awalnya kami merencanakan akan membawa 3 motor, motor saya, dodi dan johan, tapi sepertinya tidak aman kalau kami membawa motor teman kami johan dikarenakan sedikit bermasalah, maka kami pun menggunakan motor hendra.
Hari sabtu tanggal 26 Januari 2019 sesuai rencana kami kembali berkomunikasi untuk mengecek semua perlengkapan kami, mengecewakan ternyata tenda yang diusahakan yudha dari rekannya tidak bisa dibawa karena ada masalah, akhirnya kami pun mencari dari kawan ke kawan pinjaman tenda, untung nya kawan pramuka saya ada yang mau merentalkan tendanya. Akhirnya saya pun mengantar semua barang saya ke rumah yudha, karena saya harus pergi sebentar ke raya untuk menyampaikan salam bela sungkawa dari abang saya kepada kak maria purba kawannya. Saya pun bergegas pergi keraya mengingat kami janjian berkumpul jam 11 di rumah yudha. Sekembalinya dari raya saya langsung pergi menemui kawan kawan, setelah berkumpul kami kembali mengecek semua perlengkapan. Kawan saya dodi menyuruh saya untuk kembali mengecek tenda yang saya pinjam dari kawan saya, takut ada kendala nanti katanya, tapi saya menghiraukan dan percaya saja kalau tenda itu baik baik saja. Setelah merasa semuanya sudah lengkap kami pun bernagkat ke SPBU terlebih dahulu untuk mengisi BBM lalu berdoa tentunya, karena yang lebih penting dari sebuah perjalanan adalah meminta keselamatan dan mengucap syukur kepada-Nya. Kami berangkat sekitar jam 12.30an menuju pelabuhan ajibata
Jam 13.30 kami sampai di pelabuhan ajibata, sesuai rencana kami akan menyebrang menggunakan kapal Ihan Batak yang belum lama ini turun mengair di perairan dana toba tapi sayang tidak sesuai ekspetasi kami pun harus mengeluarkan dana jauh diluar harapan kami. Tapi tak apa, kata seorang dari kami kali ini aja biar pernah. Akhirnya kamipun mengiyakan untuk menyebrang dengan kapal Ihan Batak. Sekedar informasi untuk kawan kawan jika ingin menaiki KMP Ihan Batak untuk sepeda motor akan dikenakan biaya 22.000 rupiah dengan 9.000 per orang, tapi jangan khawatir karena kawan kawan akan mendapatkan pelayanan dan juga tempat yang nyaman diatas kapal. Tak hanya itu kawn kawan juga tidak perlu menghabiskan waktu yang lama diatas kapal karena saya kira kapal ini cukup cepat melaju

Sesampainya di Ambarita Samosir, kami langsung melaju ke Huta Siallagan, kampung yang cukup terkenal dengan Batu Parsidangannya, disana kami dikenai uang retribusi 5.000 per orang, tapi karena kawan kami yudha siallagan maka kami pun menawar agar kami dihitung 5 orang saja. Kampung nya cukup bagus karena selain kita bisa berekreasi, kita juga dapat belajar sedikit kearifan lokal disana. Kampung ini benar benar terawat karena masih banyak warga yang tinggal di rumah rumah adat yang ada disana.

Setelah kami selesai keliling dan berfoto foto di Huta Siallagan kami pun pergi menuju ke Puncak Tele, tapi sayang kabut naik dan menutupi pemandangan indah di depannya, akhirnya kami pun memutuskan untuk langsung saja pergi ke Bukit Holbung tapi sepanjang perjalanan ke Bukit Holbung kami disuguhi pemandangan indah yang merayu kami untuk berhenti sejenak untuk berfoto. Setelah berfoto kami pun melanjutkan perjalanan, namun di tengah perjalanan menuju Bukit Holbung tiba tiba saja rem depan motor saya blong, maklum saja perjalanan dari Puncak Tele ke Holbung banyak turunan curamnya, jadi kamipun melanjutkan perjalanan pelan pelan, asalkan selamat sampai tujuan.
Sesampainya di holbung rem depan saya kembali berfungsi, syukur lah dalam hati saya. Kami pun menuju pos pendaftaran, tak sesuai ekspetasi lagi kami dikenakan biaya 25.000 untuk satu motor dan dua penumpang padahal tahun lalu saya masih membayar seiklasnya. Tapi tak apa, hari mulai gelap dan kawan yang lain juga harus merasakan keindahan Bukit Holbung, lagian saya melihat mereka benar benar menjaga bukit ini, jadi kita yang dikenai retribusi ini tau kemana alur uang yang mereka kutip. Setelah beres di pos pendaftaran kami pun memulai perjalanan kami. Hari mulai gelap dan perjalanan masih jauh, kawan saya hendra berjalanan terlampau lambat, tapi tidak apa, saya juga pejalan lambat pikir saya. Kawan kami yudha dan johan terus berjalan dengan cepat meninggalkan kami berempat, ya hitung hitung mereka mencari lapak tenda kami didirikan. Saking lambatnya kami berjalan kawan saya dodi bersuara “ibarat gunung kita masih di selter satu, itulah selter duanya, selter tiga dan selanjutnya, jadi kita masih jauh” lalu saya mengiyakan dengan kata “semangat”. Naik bukit turun lembah akhirnya kami pun sampai di tempat membangun tenda, tepat sebelum puncak bukit. Tapi sayang tempat nyaris penuh, jadi kami harus membangun tenda dekat dengan jurang. Saat kami membangun tenda sial rasanya, tenda yang dodi suruh untuk saya cek tadi tenyata patah fibernya, akhirnya saya pun minta maaf. Lalupun kami mengakali dan akhirnya tenda pun dapat berdiri. Dodi pun berseloro “kam kira kidu kidu?” saya melanjutkan “kletak kletuk suara sepatu kaki kuda”. Lalu kami makan dan bercanda canda. Hari kian malam kami merasa agak krik krik, lalu dodi meminjam gitar yang tidak lagi dimainkan di tenda sebelah. Aneh ya, sewaktu tidak ada gitar kami dengan lancarnya bersahut sahutan denga tenda sebelah untuk bernyanyi, tapi ketika ada gitar, kami mendadak buta akan lagu. Kami bernyanyi ntah lagu apa, dan tali gitar patah, mode panik on, kami bingung dan mengupayakan berbagai cara, lucu juga kalau diingat ingat. Setelah semua cara gagal akhirnya kami sepakat untuk mengakuinya, syukurlah tenda sebelah tetap hangat dan mereka pun membawa tali gitar cadangan, untung saja. Setelah itu kami kembali bercanda tawa di tenda. Hujan datang dan sepertinya kami harus tidur, tapi sial, tenda bocor meneteskan air tepat di posisi saya tidur. Akhirnya sayapun menari sleeping bag agar saya bisa melanjutkan tidur. Sekitar jam 1.30 saya terbangun oleh dodi yang membuka tenda kami untuk membangunkan karena tenda kami lepas pacak nya, lalu junaldo pun keluar membantu dodi. Pagi nya kami semua bangun, mereka mengajak untuk naik ke puncak, tapi sayang kabut naik, dan karena saya sudah pernah, sayapun memilih melanjutkan tidur di tenda. Ternyata mereka pun ikutan melanjutkan tidur. Setelah bangun kembali kami pun masak untuk sarapan, setelah sarapan johan meracik kopi yang saya bawa (marga coffee tentunya). Setelah merasa puas dengan foto dan pemandangan kami pun berkemas, membongkar tenda untuk segera turun.

Perjalanan turun saya sakit perut karena masuk angin, terapaksa segera meninggalkan mereka dan turun diluan. Setelah kami bertemu dibawah kami bergegas melanjutkan perjalan ke air terjun efrata. Sampai di efrata untuk menghemat pengeluaran saya dan dodi pun memutuskan untuk tinggal saja diluar karena merasa sudah pernah, yang lain pun pergi tapi cepat kembali, ternyata mereka tidak jadi masuk, karen retribusi yang tidak lagi bersahabat dengan budget kami. Kami pun melanjutkan perjalanan ke dolok sanggul untuk mengisi perut dan persediaan air minum. Setelah kami makan dan beristirahat kami pun melaju ke Geosite Taman Sipinsur di Muara. Sesampainya disana ternyata Partai Golkar sedang melaksanakan acara syukuran Natal Nasional Golkar, lumayan kami jadi hanya dikenakan uang parkir saja sekalian bisa lihat marsada band (artis batak) selaku bintang tamu. Terawat juga tempat ini pikir saya, tidak rugi jika dikenakan sedikit retribusi.

Setelah selesai kami pun melanjutkan perjalanan ke pantai bul bul balige, tapi retribusi naik drastis dan budget kami tidak lagi cukup karena masih harus mengisi minyak di parapat. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami, sesampainya di lagu boti kami menyicipi gorengan disana, enak juga pikir saya. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke siantar.
Sesampainya disiantar kami langsung mengembalikan peralatan yang kami rental dan pergi kerumah saya untuk mengambil laptop dan nongkrong sebentar memindahkan foto, lumayan kami ditraktir junaldo untuk ini.
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa sering sering senyum
Salam hangat
Salam lestari



1 komentar:

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com