Tabik!!!
Seperti tidak konsisten dalam menulis di blog ini,
itulah yang saya rasakan. Saya kembali menulis bermula dari seorang kawan lama
bernama eka yang iseng iseng membuka laman blog saya, lalu ia memberitahu hal
hal yang ia temukan di blog saya. Setelah itu, saya pun berpikiran untuk mulai
menulis kembali.
Kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan
saya mengelilingi samosir dan setengah lingar cincin danau toba. Dasar
perjalanan kami ini berawal dari gagalnya perjalanan saya dan kawan saya dodi dan juga hendra untuk mendaki. Lalu kami pun kembali melakukan perencanaan ulang perjalanan kami. Dalam perjalanan saya kali ini, saya bertemu dengan orang orang mengagumkan yang dikenalkan oleh hendra dan dodi, dan mereka adalah yudha, junaldo, dan johan. Kali ini kami akan pergi ber enam. Awalnya saya, dodi, hendra, yudha, dan junaldo merencanakan akan pergi mendaki kesibayak bersama, tetapi dikarenakan teman kami johan sudah pernah mendaki kesana, dia pun menolak dan menawari kami untuk pergi mengelilingi samosir. Awalnya saya sedikit tidak setuju karena saya sudah pernah mengelilingi samosir tahun lalu, begitu juga dengan teman saya dodi. Tapi, kawan kawan yang lain tampak setuju dan akhirnya saya dan dodi pun harus mengalah, “yang penting kami sama sama” pikir saya. Awalnya kami merencanakan akan membawa 3 motor, motor saya, dodi dan johan, tapi sepertinya tidak aman kalau kami membawa motor teman kami johan dikarenakan sedikit bermasalah, maka kami pun menggunakan motor hendra.
perjalanan kami ini berawal dari gagalnya perjalanan saya dan kawan saya dodi dan juga hendra untuk mendaki. Lalu kami pun kembali melakukan perencanaan ulang perjalanan kami. Dalam perjalanan saya kali ini, saya bertemu dengan orang orang mengagumkan yang dikenalkan oleh hendra dan dodi, dan mereka adalah yudha, junaldo, dan johan. Kali ini kami akan pergi ber enam. Awalnya saya, dodi, hendra, yudha, dan junaldo merencanakan akan pergi mendaki kesibayak bersama, tetapi dikarenakan teman kami johan sudah pernah mendaki kesana, dia pun menolak dan menawari kami untuk pergi mengelilingi samosir. Awalnya saya sedikit tidak setuju karena saya sudah pernah mengelilingi samosir tahun lalu, begitu juga dengan teman saya dodi. Tapi, kawan kawan yang lain tampak setuju dan akhirnya saya dan dodi pun harus mengalah, “yang penting kami sama sama” pikir saya. Awalnya kami merencanakan akan membawa 3 motor, motor saya, dodi dan johan, tapi sepertinya tidak aman kalau kami membawa motor teman kami johan dikarenakan sedikit bermasalah, maka kami pun menggunakan motor hendra.
Hari sabtu tanggal 26 Januari 2019 sesuai rencana
kami kembali berkomunikasi untuk mengecek semua perlengkapan kami, mengecewakan
ternyata tenda yang diusahakan yudha dari rekannya tidak bisa dibawa karena ada
masalah, akhirnya kami pun mencari dari kawan ke kawan pinjaman tenda, untung
nya kawan pramuka saya ada yang mau merentalkan tendanya. Akhirnya saya pun
mengantar semua barang saya ke rumah yudha, karena saya harus pergi sebentar ke
raya untuk menyampaikan salam bela sungkawa dari abang saya kepada kak maria
purba kawannya. Saya pun bergegas pergi keraya mengingat kami janjian berkumpul
jam 11 di rumah yudha. Sekembalinya dari raya saya langsung pergi menemui kawan
kawan, setelah berkumpul kami kembali mengecek semua perlengkapan. Kawan saya
dodi menyuruh saya untuk kembali mengecek tenda yang saya pinjam dari kawan
saya, takut ada kendala nanti katanya, tapi saya menghiraukan dan percaya saja
kalau tenda itu baik baik saja. Setelah merasa semuanya sudah lengkap kami pun
bernagkat ke SPBU terlebih dahulu untuk mengisi BBM lalu berdoa tentunya,
karena yang lebih penting dari sebuah perjalanan adalah meminta keselamatan dan
mengucap syukur kepada-Nya. Kami berangkat sekitar jam 12.30an menuju pelabuhan
ajibata
Jam 13.30 kami sampai di pelabuhan ajibata, sesuai
rencana kami akan menyebrang menggunakan kapal Ihan Batak yang belum lama ini
turun mengair di perairan dana toba tapi sayang tidak sesuai ekspetasi kami pun
harus mengeluarkan dana jauh diluar harapan kami. Tapi tak apa, kata seorang
dari kami kali ini aja biar pernah. Akhirnya kamipun mengiyakan untuk
menyebrang dengan kapal Ihan Batak. Sekedar informasi untuk kawan kawan jika
ingin menaiki KMP Ihan Batak untuk sepeda motor akan dikenakan biaya 22.000
rupiah dengan 9.000 per orang, tapi jangan khawatir karena kawan kawan akan
mendapatkan pelayanan dan juga tempat yang nyaman diatas kapal. Tak hanya itu
kawn kawan juga tidak perlu menghabiskan waktu yang lama diatas kapal karena
saya kira kapal ini cukup cepat melaju
Sesampainya di Ambarita Samosir, kami langsung
melaju ke Huta Siallagan, kampung yang cukup terkenal dengan Batu
Parsidangannya, disana kami dikenai uang retribusi 5.000 per orang, tapi karena
kawan kami yudha siallagan maka kami pun menawar agar kami dihitung 5 orang
saja. Kampung nya cukup bagus karena selain kita bisa berekreasi, kita juga
dapat belajar sedikit kearifan lokal disana. Kampung ini benar benar terawat
karena masih banyak warga yang tinggal di rumah rumah adat yang ada disana.
Setelah kami selesai keliling dan berfoto foto di
Huta Siallagan kami pun pergi menuju ke Puncak Tele, tapi sayang kabut naik dan
menutupi pemandangan indah di depannya, akhirnya kami pun memutuskan untuk
langsung saja pergi ke Bukit Holbung tapi sepanjang perjalanan ke Bukit Holbung
kami disuguhi pemandangan indah yang merayu kami untuk berhenti sejenak untuk
berfoto. Setelah berfoto kami pun melanjutkan perjalanan, namun di tengah
perjalanan menuju Bukit Holbung tiba tiba saja rem depan motor saya blong,
maklum saja perjalanan dari Puncak Tele ke Holbung banyak turunan curamnya,
jadi kamipun melanjutkan perjalanan pelan pelan, asalkan selamat sampai tujuan.
Sesampainya di holbung rem depan saya kembali
berfungsi, syukur lah dalam hati saya. Kami pun menuju pos pendaftaran, tak
sesuai ekspetasi lagi kami dikenakan biaya 25.000 untuk satu motor dan dua
penumpang padahal tahun lalu saya masih membayar seiklasnya. Tapi tak apa, hari
mulai gelap dan kawan yang lain juga harus merasakan keindahan Bukit Holbung,
lagian saya melihat mereka benar benar menjaga bukit ini, jadi kita yang
dikenai retribusi ini tau kemana alur uang yang mereka kutip. Setelah beres di
pos pendaftaran kami pun memulai perjalanan kami. Hari mulai gelap dan
perjalanan masih jauh, kawan saya hendra berjalanan terlampau lambat, tapi
tidak apa, saya juga pejalan lambat pikir saya. Kawan kami yudha dan johan
terus berjalan dengan cepat meninggalkan kami berempat, ya hitung hitung mereka
mencari lapak tenda kami didirikan. Saking lambatnya kami berjalan kawan saya
dodi bersuara “ibarat gunung kita masih di selter satu, itulah selter duanya,
selter tiga dan selanjutnya, jadi kita masih jauh” lalu saya mengiyakan dengan
kata “semangat”. Naik bukit turun lembah akhirnya kami pun sampai di tempat
membangun tenda, tepat sebelum puncak bukit. Tapi sayang tempat nyaris penuh,
jadi kami harus membangun tenda dekat dengan jurang. Saat kami membangun tenda
sial rasanya, tenda yang dodi suruh untuk saya cek tadi tenyata patah fibernya,
akhirnya saya pun minta maaf. Lalupun kami mengakali dan akhirnya tenda pun
dapat berdiri. Dodi pun berseloro “kam kira kidu kidu?” saya melanjutkan “kletak
kletuk suara sepatu kaki kuda”. Lalu kami makan dan bercanda canda. Hari kian
malam kami merasa agak krik krik, lalu dodi meminjam gitar yang tidak lagi
dimainkan di tenda sebelah. Aneh ya, sewaktu tidak ada gitar kami dengan
lancarnya bersahut sahutan denga tenda sebelah untuk bernyanyi, tapi ketika ada
gitar, kami mendadak buta akan lagu. Kami bernyanyi ntah lagu apa, dan tali
gitar patah, mode panik on, kami bingung dan mengupayakan berbagai cara, lucu
juga kalau diingat ingat. Setelah semua cara gagal akhirnya kami sepakat untuk
mengakuinya, syukurlah tenda sebelah tetap hangat dan mereka pun membawa tali
gitar cadangan, untung saja. Setelah itu kami kembali bercanda tawa di tenda. Hujan
datang dan sepertinya kami harus tidur, tapi sial, tenda bocor meneteskan air
tepat di posisi saya tidur. Akhirnya sayapun menari sleeping bag agar saya bisa
melanjutkan tidur. Sekitar jam 1.30 saya terbangun oleh dodi yang membuka tenda
kami untuk membangunkan karena tenda kami lepas pacak nya, lalu junaldo pun
keluar membantu dodi. Pagi nya kami semua bangun, mereka mengajak untuk naik ke
puncak, tapi sayang kabut naik, dan karena saya sudah pernah, sayapun memilih
melanjutkan tidur di tenda. Ternyata mereka pun ikutan melanjutkan tidur. Setelah
bangun kembali kami pun masak untuk sarapan, setelah sarapan johan meracik kopi
yang saya bawa (marga coffee tentunya). Setelah merasa puas dengan foto dan
pemandangan kami pun berkemas, membongkar tenda untuk segera turun.
Perjalanan turun saya sakit perut karena masuk
angin, terapaksa segera meninggalkan mereka dan turun diluan. Setelah kami
bertemu dibawah kami bergegas melanjutkan perjalan ke air terjun efrata. Sampai
di efrata untuk menghemat pengeluaran saya dan dodi pun memutuskan untuk
tinggal saja diluar karena merasa sudah pernah, yang lain pun pergi tapi cepat
kembali, ternyata mereka tidak jadi masuk, karen retribusi yang tidak lagi
bersahabat dengan budget kami. Kami pun melanjutkan perjalanan ke dolok sanggul
untuk mengisi perut dan persediaan air minum. Setelah kami makan dan
beristirahat kami pun melaju ke Geosite Taman Sipinsur di Muara. Sesampainya disana
ternyata Partai Golkar sedang melaksanakan acara syukuran Natal Nasional Golkar,
lumayan kami jadi hanya dikenakan uang parkir saja sekalian bisa lihat marsada
band (artis batak) selaku bintang tamu. Terawat juga tempat ini pikir saya,
tidak rugi jika dikenakan sedikit retribusi.
Setelah selesai kami pun melanjutkan perjalanan ke
pantai bul bul balige, tapi retribusi naik drastis dan budget kami tidak lagi
cukup karena masih harus mengisi minyak di parapat. Kami pun memutuskan untuk
melanjutkan perjalanan kami, sesampainya di lagu boti kami menyicipi gorengan
disana, enak juga pikir saya. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke
siantar.
Sesampainya disiantar kami langsung mengembalikan
peralatan yang kami rental dan pergi kerumah saya untuk mengambil laptop dan
nongkrong sebentar memindahkan foto, lumayan kami ditraktir junaldo untuk ini.
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa sering sering senyum
Salam hangat
Salam lestari


Nice. Kakak tunggu cerita selanjutnya ya. Fighting 💪
BalasHapus