Senin, 13 Mei 2019

Merayakan Kehilangan (Puncak Sipiso-piso, Merek Situnggaling)


Tabik!

                Beberapa waktu lalu saya merencanakan kembali perjalanan bersama kawan saya kevin, hanz, dan deny untuk melaksanakan camping pada tanggal 10 mei 2019 yang bertepatan dengan tanggal dimana saya kehilangan orang yang saya cintai tiga
tahun yang lalu. Berselangnya waktu kevin dan deny pun izin tidak bisa bergabung tapi saya tetap ngotot dan harus jadi, akhirnya hanz pun menyetujui agar kami pergi berdua saja, saya berangkat dari medan dan hanz berangkat dari pematangsiantar, ketemu ditengah. Beberapa kemudian pada tanggal 7 mei saya pun datang ke rumah opung saya untuk mengambil paket yang saya atas namakan kevin, dan saya kembali membujuknya untuk ikut dengan kami berdua dan yang pasti berhasil. Sepulangnya saya dari rumah opung saya, saya pun membagi tugas di grup wa kami, ternyata hp kevin rusak dan pesan saya pun tak tersampaikan.


                Jumat, 10 mei 2019 tiba dimana kami merencanakan perjalanan kami pada hari  ini, menunggu waktu tiba jam 5 sore saya pun keasikan main PES 2013 di laptop saya, hingga akhirnya kevin pun datang, sayapun gelagapan karena belum persiapan apa apa, akhirnya sayapun buru buru mandi dan menyuruh kevin untuk mengabari hanz yang sedang disiantar bahwasanya kami sudah berangkat, supaya dia persiapan dan tidak kemalaman, mengingat dia pernah bilang lampu motor dan klakson nya bermasalah. Sebelum menuju ke saribudolok tempat kami sepakat akan bertemu dengan hanz, kami pun mengambil hp kevin yang sedang diperbaiki oleh abang tetangganya yang ternyata abang itu mantan guide di taman pramuka sibolangit, akhirnya kami pun membuka pembicaraan sekilas tentang bertualang di alam, yang benar saja, anaknya yang masih kecil sudah pernah jalan kaki menyusuri hutan selama 4 jam, saya dan abang itu pun menyepakati duduk kembali satu meja untuk merencanakan suatu perjalanan menyusuri gua gua di sumatera utara nantinya. Mengingat waktu yang semakin menggelapkan cahaya langit saya dan kevin pun pamit dan segera berangkat.
                Dalam perjalanan kami tak seperti biasa dimana kami selalu berdoa bersama dalam mengawalinya, kali ini kami doa masing masing, kalau kata kakak pkk saya doa egois egois. Dalam perjalanan yang agak macet ada seorang pengendara yang melaju kencang dan menyalakan klaksonnya panjang panjang, kevin pun berseloro dengan kencang, “terbanglah” katanya, ternyata si pengendara mendengarnya dan melambatkan laju motornya dan memberikan kevin mop, kevin pun ciut seketika, lucu juga saya kira kalau diingat ingat. Melanjutkan perjalanan rintik air mulai menghantam jalanan, saya dan kevin pun meyakinkan diri kalau itu hanya gerimis tipis tipis dan memilih melanjutkan perjalanan, takutnya hanz sudah sampai dan kelamaan menunggu kami. Diperjalanan saya teringat dengan jalan alternative yang pernah digunakan IMAS USU saat PSBS di Pematang Raya, saya pun menawari kevin untuk lewat sana saja. Sampai di tiga panah, hanz mulai intens menghubungi saya, dan ternyata dia sudah sampai, tak mengira perjalanan masih jauh, kevin pun mengendarai lambat dan saya tidak mengingatkan, alhasil hanz menunggu kami berdua cukup lama di mini market. Bertemu di mini market sekitar jam setengah 9 kami pun kembali mengecek barang bawaan kami, kebetulan lagi di mini market jadi kami pun menambah logistic makanan kami, melihat penjaga mini market nya yang tergolong cantik, kevin pun seperti menanttang saya untuk berkenalan dengan kakak itu yang belakangan saya tau dia boru tarigan dan yang terjadi……………………………………..

                Kami pun menuju merek situnggaling, saya dan kevin mengira hanz memang benar benar sudah pernah ke bukit gundul, ternyata belum, jam menunjukkan jam 9 malam, kami pun tiba di sebuah persimpangan yang menurut peta itu adalah simpang menuju bukit gundul. Kami melaju dengan keraguan, hingga tiba di sebuah pos proyek yang ada penjaganya, kami pun bertanya dengan penjaga tersebut, ternyata itu bukanlah menuju bukit gundul tetapi menuju bina bina ntah apalah, tapi itu tempat camping juga, Cuma melihat kondisi yang sepi dan gelap saya pun kurang yakin untuk bermalam disana, takutnya kenapa kenapa gak ada yang tau karena Cuma ada kami nantinya. Kami pun diarahkan kejalan yang tepat oleh beliau. Dalam perjalanan dengan jalur yang kami kira tepat, saya pun berkata kepada kevin “saya kira hanz benar benar tau tempat dan pernah kesitu makanya saya mau jalan malam”, “kalau aku sih karena bukit yang mau kita kunjungi makanya aku mau jalan malam ja” kata kevin. kamipun sampai di gapura Merek Situnggaling dan saya merasa tidak asing, saya pernah memasuki gapura itu dengan kawan saya bang Mario dan kak Lena sewaktu perjalanan ke bukit gajah bobok. Singkat cerita kami pun melaju kedalam dan bertemu dengan sepasang kekasih, lalu bertanya kepada mereka, kami diarahkan ke sebuah desa yang belakangan kami tau kalau desa itu adalah desa pangambatan dan sewaktu bertanya pun saya rasa mereka mengira kalau kami mau menuju bukit gajah bobok.


                Merasa percaya dengan info mereka, kami pun melaju hingga tiba di gapura desa pangambatan, hanz dan kevin merasa tidak asing dengan desa itu dan berkata, bukan ini pasti jalannya, ini sih jalan mau ke kampung bang kasito (sepupu jauh dari mama). Kami pun memilih melanjut perjalanan sampai kami merasa sudah terlalu jauh, “tadi sebelum gapura desa pangambatan ada kulihat plankat gitu” kata hanz, waduh kenapa ga dari tadi dibilang pikir saya, kami pun berbalik arah hingga sampai di persimpangan dengan tulisan “Puncak Sipiso-piso 2,5km”. Dengan penuh keraguan kami pun meyakinkan diri bahwa itu adalah jalan yang benar. Kami pun mulai mengendarai mengikuti alur jalan, dan tidak seperti bayangan saya ternyata jalannya tidak cocok untuk di tanjak memakai motor matic, tapi mau tidak mau motor saya harus menanjak jalan tersebut karena posko dibawah tutup, mungkin karena bulan puasa jadi motor tidak bisa dititip. Sudah merasa jauh menyiksa motor, saya pun teringat dengan sebuah omongan teman saya dodi yang terkesan menyepelekan ketangguhan motor saya tidak dapat di bawa ke bukit gundul, dan saya sadar memang jalannya tidak cocok untuk motor matic, mungkin motor manual pun juga tidak rekomendasi, kasihan motornya. Tidak melihat orang satupun saya mulai ragu dengan jalan yang kami lalui, tapi kembali bukanlah pilihan yang tepat, kami sudah jauh diatas hingga tiba pada sebuah tikungan kami bertemu dengan dua orang pendaki. Syukur saya panjatkan kepada Tuhan dalam hati, ternyata kami berada pada jalur yang tepat. Melewati satu tikungan lagi kami pun sampai pada area lapak tenda, sepi memang pada saat itu. Wajar saja pikir saya ini bulan puasa. Bertemu dengan petualang lainnya, kami terlibat percakapan yang menghangatkan sebentar sebelum membangun tenda. Kami coba membangun tenda dan yang pastinya kali ini tenda kami berdiri dengan rapi, saat membangun terdengar dari petualang lainnya samar samar tentang tiket, saya, kevin dan hanz pun bingung karena tidak menemui siapa siapa perihal tiket. Kami pun memilih cuek saja tentang tiket dan memiilih melanjutkan aktivitas kami di tenda. Beberapa waktu  kemudian mama hanz telpon, dan mengatakan bahwa mama saya marah karena saya pergi tanpa izin, wajar saja saya pikir, beliau tidak  maul ah pastinya kehilangan orang orang yang ia sayangi di tanggal yang sama untuk kedua kalinya. Akhirnya saya pun menelpon dan meminta restu untuk melanjut petualangan malam ini, dan yang benar saja saya langsung rindu untuk pulang ke rumah.



                Dini hari saya beebrapa kali terbangun dengan satu mimpi yang teringat sampai saat ini, mungkin karena terlalu banyak membaca tentang cerita cerita horor di jalur pendakian pikir saya, ditambah lagi karena tidak ketemu ketemunya petualang lainnya dalam pendakian kami dari posko sampai atas, saya sempat memikirkan tentang cerita cerita tersebut dan sempat membuat saya berpikir kalau kami sedang diputar putar oleh jin, lucu juga kalau di ingat ingat. Hingga jam 4 kurang kembali terbangun dan mengajak kevin keluar sebentar sampai jam 4 tiba suara dari masjid mulai berkumandang pertanda sahur. Saya dan kevin pun kembali masuk ke tenda dan memilih untuk tidur kembali.


                Sekitar jam 5 kami dibangunkan oleh penghuni tenda sebelah, kami pun bangun dan bersiap siap untuk mengambil beberapa gambar dan menikmati pagi yang sangat sejuk rasanya. Setelahnya kami pun masak untuk segera mengisi kekosongan kekuasaan dalam perut. Beristirahat sejenak kami pun segera berkemas untuk kembali turun sambil merencanakan perjalanan selanjutnya. Akhirnya kamipun memilih turun dan berkunjung ke desa pangambatan rumahnya bang kasito. Sesampainya disana dengan beberapa kali bertanya pada warga kami pun mendapati rumahnya kosong. Saat dihubungi kami pun disuruh menunggu dan langsung saja masuk kedalam, tapi hanz dan kevin pun enggan untuk masuk karena rumah kosong, maklum saja rumah di kampong memang jarang di kunci karena rasa salaing percaya dengan penduduk sekitar. Tapi saya pun memilih untuk masuk saja sampai akhirnya hanz dan kevin pun ikut. Beberapa menit kemudian bang kasito dan godang laki laki (panggilan yang kami gunakan untuk orang tua laki laki nya bang kasito) pun datang. Godang itu pun memaksa kami untuk tinggal barang semalam, tapi karena sudah rindu dengan rumah saya pun berat mengiyakan nya. Saya pun menelpon mama kembali dan mama seperti sedih mendengar bahwa saya tidak akan bermalam di rumah ditambah lagi godang itu langsung meminta hp saya dan berbicara dengan mama langsung, mama pun iya iya saja. Saya pun mengirim pesan wa ke mama kalau saya akan usahakan pulang sore itu juga.


                Sekitar jam 12 siang bang kasito pun mengajak kami jalan jalan. Kami memulainya dari Sapo Juma, hanya saja sayangnya kami tidak bisa mengabadikan gambar yang bagus disana, tapi untungnya kami bisa bebas retribusi karena ada bang kasito. Selesai dari Sapo Juma kami pun singgah sebentar di kebun sayur bang kasito untuk bertemu dengan godang perempuan, godang pun mengizinkan kami untuk pulang hari itu juga, yang penting sudah bertemu katanya tapi kami harus mampir sebentar ke kebun jeruk dan membawakannya untuk orang mama di rumah. Selesai pamit kami pun melanjutkan ke bukit gajah bobok untuk mengambil gambar dan istirahat sejenak. Selesai itu kami pun turun dan lagi lagi bebas retribusi lalu segera ke kebun untuk mengambil buah buahan. Selesai dari kebun kami kembali ke rumah bang kasito untuk mandi dan istirahat sejenak. Akhirnya kami pun pamit dan melanjutkan perjalanan untuk kembali kesiantar…




                Merasa kehilangan memang sering kali membuat kesedihan mampir, tapi ada hal yang harus diinga, “raga boleh saja hilang, tapi jiwa akan tetap hadir dalam pengajaran pengajarannya kepada kita”. Pergilah dan ingat lah pulang, rayakan rasa kehilangan dan lepaskan beban mu

Salam literasi,
Rajagovan,
Lestari!


0 komentar:

Posting Komentar

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com