Tabik!
Beberapa
waktu lalu saya merencanakan kembali perjalanan bersama kawan saya kevin, hanz,
dan deny untuk melaksanakan camping pada tanggal 10 mei 2019 yang bertepatan
dengan tanggal dimana saya kehilangan orang yang saya cintai tiga
tahun yang
lalu. Berselangnya waktu kevin dan deny pun izin tidak bisa bergabung tapi saya
tetap ngotot dan harus jadi, akhirnya hanz pun menyetujui agar kami pergi
berdua saja, saya berangkat dari medan dan hanz berangkat dari pematangsiantar,
ketemu ditengah. Beberapa kemudian pada tanggal 7 mei saya pun datang ke rumah
opung saya untuk mengambil paket yang saya atas namakan kevin, dan saya kembali
membujuknya untuk ikut dengan kami berdua dan yang pasti berhasil. Sepulangnya
saya dari rumah opung saya, saya pun membagi tugas di grup wa kami, ternyata hp
kevin rusak dan pesan saya pun tak tersampaikan.
Jumat,
10 mei 2019 tiba dimana kami merencanakan perjalanan kami pada hari ini, menunggu waktu tiba jam 5 sore saya pun
keasikan main PES 2013 di laptop saya, hingga akhirnya kevin pun datang,
sayapun gelagapan karena belum persiapan apa apa, akhirnya sayapun buru buru
mandi dan menyuruh kevin untuk mengabari hanz yang sedang disiantar bahwasanya
kami sudah berangkat, supaya dia persiapan dan tidak kemalaman, mengingat dia
pernah bilang lampu motor dan klakson nya bermasalah. Sebelum menuju ke
saribudolok tempat kami sepakat akan bertemu dengan hanz, kami pun mengambil hp
kevin yang sedang diperbaiki oleh abang tetangganya yang ternyata abang itu
mantan guide di taman pramuka sibolangit, akhirnya kami pun membuka pembicaraan
sekilas tentang bertualang di alam, yang benar saja, anaknya yang masih kecil
sudah pernah jalan kaki menyusuri hutan selama 4 jam, saya dan abang itu pun
menyepakati duduk kembali satu meja untuk merencanakan suatu perjalanan
menyusuri gua gua di sumatera utara nantinya. Mengingat waktu yang semakin
menggelapkan cahaya langit saya dan kevin pun pamit dan segera berangkat.
Dalam
perjalanan kami tak seperti biasa dimana kami selalu berdoa bersama dalam
mengawalinya, kali ini kami doa masing masing, kalau kata kakak pkk saya doa
egois egois. Dalam perjalanan yang agak macet ada seorang pengendara yang
melaju kencang dan menyalakan klaksonnya panjang panjang, kevin pun berseloro
dengan kencang, “terbanglah” katanya, ternyata si pengendara mendengarnya dan
melambatkan laju motornya dan memberikan kevin mop, kevin pun ciut seketika,
lucu juga saya kira kalau diingat ingat. Melanjutkan perjalanan rintik air
mulai menghantam jalanan, saya dan kevin pun meyakinkan diri kalau itu hanya
gerimis tipis tipis dan memilih melanjutkan perjalanan, takutnya hanz sudah
sampai dan kelamaan menunggu kami. Diperjalanan saya teringat dengan jalan
alternative yang pernah digunakan IMAS USU saat PSBS di Pematang Raya, saya pun
menawari kevin untuk lewat sana saja. Sampai di tiga panah, hanz mulai intens
menghubungi saya, dan ternyata dia sudah sampai, tak mengira perjalanan masih
jauh, kevin pun mengendarai lambat dan saya tidak mengingatkan, alhasil hanz
menunggu kami berdua cukup lama di mini market. Bertemu di mini market sekitar
jam setengah 9 kami pun kembali mengecek barang bawaan kami, kebetulan lagi di
mini market jadi kami pun menambah logistic makanan kami, melihat penjaga mini
market nya yang tergolong cantik, kevin pun seperti menanttang saya untuk
berkenalan dengan kakak itu yang belakangan saya tau dia boru tarigan dan yang
terjadi……………………………………..
Kami
pun menuju merek situnggaling, saya dan kevin mengira hanz memang benar benar
sudah pernah ke bukit gundul, ternyata belum, jam menunjukkan jam 9 malam, kami
pun tiba di sebuah persimpangan yang menurut peta itu adalah simpang menuju
bukit gundul. Kami melaju dengan keraguan, hingga tiba di sebuah pos proyek
yang ada penjaganya, kami pun bertanya dengan penjaga tersebut, ternyata itu
bukanlah menuju bukit gundul tetapi menuju bina bina ntah apalah, tapi itu
tempat camping juga, Cuma melihat kondisi yang sepi dan gelap saya pun kurang
yakin untuk bermalam disana, takutnya kenapa kenapa gak ada yang tau karena
Cuma ada kami nantinya. Kami pun diarahkan kejalan yang tepat oleh beliau.
Dalam perjalanan dengan jalur yang kami kira tepat, saya pun berkata kepada
kevin “saya kira hanz benar benar tau tempat dan pernah kesitu makanya saya mau
jalan malam”, “kalau aku sih karena bukit yang mau kita kunjungi makanya aku
mau jalan malam ja” kata kevin. kamipun sampai di gapura Merek Situnggaling dan
saya merasa tidak asing, saya pernah memasuki gapura itu dengan kawan saya bang
Mario dan kak Lena sewaktu perjalanan ke bukit gajah bobok. Singkat cerita kami
pun melaju kedalam dan bertemu dengan sepasang kekasih, lalu bertanya kepada
mereka, kami diarahkan ke sebuah desa yang belakangan kami tau kalau desa itu
adalah desa pangambatan dan sewaktu bertanya pun saya rasa mereka mengira kalau
kami mau menuju bukit gajah bobok.
Merasa
percaya dengan info mereka, kami pun melaju hingga tiba di gapura desa
pangambatan, hanz dan kevin merasa tidak asing dengan desa itu dan berkata,
bukan ini pasti jalannya, ini sih jalan mau ke kampung bang kasito (sepupu jauh
dari mama). Kami pun memilih melanjut perjalanan sampai kami merasa sudah
terlalu jauh, “tadi sebelum gapura desa pangambatan ada kulihat plankat gitu”
kata hanz, waduh kenapa ga dari tadi dibilang pikir saya, kami pun berbalik
arah hingga sampai di persimpangan dengan tulisan “Puncak Sipiso-piso 2,5km”.
Dengan penuh keraguan kami pun meyakinkan diri bahwa itu adalah jalan yang
benar. Kami pun mulai mengendarai mengikuti alur jalan, dan tidak seperti
bayangan saya ternyata jalannya tidak cocok untuk di tanjak memakai motor
matic, tapi mau tidak mau motor saya harus menanjak jalan tersebut karena posko
dibawah tutup, mungkin karena bulan puasa jadi motor tidak bisa dititip. Sudah merasa
jauh menyiksa motor, saya pun teringat dengan sebuah omongan teman saya dodi
yang terkesan menyepelekan ketangguhan motor saya tidak dapat di bawa ke bukit
gundul, dan saya sadar memang jalannya tidak cocok untuk motor matic, mungkin
motor manual pun juga tidak rekomendasi, kasihan motornya. Tidak melihat orang
satupun saya mulai ragu dengan jalan yang kami lalui, tapi kembali bukanlah
pilihan yang tepat, kami sudah jauh diatas hingga tiba pada sebuah tikungan
kami bertemu dengan dua orang pendaki. Syukur saya panjatkan kepada Tuhan dalam
hati, ternyata kami berada pada jalur yang tepat. Melewati satu tikungan lagi
kami pun sampai pada area lapak tenda, sepi memang pada saat itu. Wajar saja
pikir saya ini bulan puasa. Bertemu dengan petualang lainnya, kami terlibat
percakapan yang menghangatkan sebentar sebelum membangun tenda. Kami coba
membangun tenda dan yang pastinya kali ini tenda kami berdiri dengan rapi, saat
membangun terdengar dari petualang lainnya samar samar tentang tiket, saya,
kevin dan hanz pun bingung karena tidak menemui siapa siapa perihal tiket. Kami
pun memilih cuek saja tentang tiket dan memiilih melanjutkan aktivitas kami di
tenda. Beberapa waktu kemudian mama hanz
telpon, dan mengatakan bahwa mama saya marah karena saya pergi tanpa izin,
wajar saja saya pikir, beliau tidak maul
ah pastinya kehilangan orang orang yang ia sayangi di tanggal yang sama untuk
kedua kalinya. Akhirnya saya pun menelpon dan meminta restu untuk melanjut
petualangan malam ini, dan yang benar saja saya langsung rindu untuk pulang ke
rumah.
Dini
hari saya beebrapa kali terbangun dengan satu mimpi yang teringat sampai saat
ini, mungkin karena terlalu banyak membaca tentang cerita cerita horor di jalur
pendakian pikir saya, ditambah lagi karena tidak ketemu ketemunya petualang
lainnya dalam pendakian kami dari posko sampai atas, saya sempat memikirkan
tentang cerita cerita tersebut dan sempat membuat saya berpikir kalau kami
sedang diputar putar oleh jin, lucu juga kalau di ingat ingat. Hingga jam 4
kurang kembali terbangun dan mengajak kevin keluar sebentar sampai jam 4 tiba
suara dari masjid mulai berkumandang pertanda sahur. Saya dan kevin pun kembali
masuk ke tenda dan memilih untuk tidur kembali.
Sekitar
jam 5 kami dibangunkan oleh penghuni tenda sebelah, kami pun bangun dan bersiap
siap untuk mengambil beberapa gambar dan menikmati pagi yang sangat sejuk
rasanya. Setelahnya kami pun masak untuk segera mengisi kekosongan kekuasaan
dalam perut. Beristirahat sejenak kami pun segera berkemas untuk kembali turun
sambil merencanakan perjalanan selanjutnya. Akhirnya kamipun memilih turun dan
berkunjung ke desa pangambatan rumahnya bang kasito. Sesampainya disana dengan
beberapa kali bertanya pada warga kami pun mendapati rumahnya kosong. Saat dihubungi
kami pun disuruh menunggu dan langsung saja masuk kedalam, tapi hanz dan kevin
pun enggan untuk masuk karena rumah kosong, maklum saja rumah di kampong memang
jarang di kunci karena rasa salaing percaya dengan penduduk sekitar. Tapi saya
pun memilih untuk masuk saja sampai akhirnya hanz dan kevin pun ikut. Beberapa menit
kemudian bang kasito dan godang laki laki (panggilan yang kami gunakan untuk
orang tua laki laki nya bang kasito) pun datang. Godang itu pun memaksa kami
untuk tinggal barang semalam, tapi karena sudah rindu dengan rumah saya pun
berat mengiyakan nya. Saya pun menelpon mama kembali dan mama seperti sedih
mendengar bahwa saya tidak akan bermalam di rumah ditambah lagi godang itu
langsung meminta hp saya dan berbicara dengan mama langsung, mama pun iya iya
saja. Saya pun mengirim pesan wa ke mama kalau saya akan usahakan pulang sore
itu juga.
Sekitar
jam 12 siang bang kasito pun mengajak kami jalan jalan. Kami memulainya dari
Sapo Juma, hanya saja sayangnya kami tidak bisa mengabadikan gambar yang bagus
disana, tapi untungnya kami bisa bebas retribusi karena ada bang kasito. Selesai
dari Sapo Juma kami pun singgah sebentar di kebun sayur bang kasito untuk
bertemu dengan godang perempuan, godang pun mengizinkan kami untuk pulang hari
itu juga, yang penting sudah bertemu katanya tapi kami harus mampir sebentar ke
kebun jeruk dan membawakannya untuk orang mama di rumah. Selesai pamit kami pun
melanjutkan ke bukit gajah bobok untuk mengambil gambar dan istirahat sejenak. Selesai
itu kami pun turun dan lagi lagi bebas retribusi lalu segera ke kebun untuk
mengambil buah buahan. Selesai dari kebun kami kembali ke rumah bang kasito
untuk mandi dan istirahat sejenak. Akhirnya kami pun pamit dan melanjutkan
perjalanan untuk kembali kesiantar…
Merasa
kehilangan memang sering kali membuat kesedihan mampir, tapi ada hal yang harus
diinga, “raga boleh saja hilang, tapi jiwa akan tetap hadir dalam pengajaran
pengajarannya kepada kita”. Pergilah dan ingat lah pulang, rayakan rasa
kehilangan dan lepaskan beban mu
Salam literasi,
Rajagovan,
Lestari!

0 komentar:
Posting Komentar