Kamis, 02 Mei 2019

Udah Dekat – Gunung Sibayak


Mejuah-juah!

                Dalam perjalanan, kita sering kali mengeluhkan apa yang telah kita jalani, padahal tanpa kita sadari tujuan kita sudah didepan mata.

                Terlalu banyak wacana hingga tak pernah jadi membuat saya kesal di tengah kesibukan jadwal yang begitu padat. Saya merencanankan perjalanan yang bisa dibilang ngotot dengan sepupu saya karena sudah hamper 2 bulan tidak melangsungkan
perjalanan, padahal saya akan memasuki minggu yang sangat padat dan akan menguras banyak tenaga. Tapi, saya tahu porsi badan saya dan ini perjalanan saya.

                Selepas libur pemiilu dan paskah saya merencanakan sebuah pendakian dengan sepupu saya, Hanz. Dengan maksud jika tidak ada lagi kawan kawan yang mau ikut kami akan tetap berangkat berdua. Mencari cari kawan perjalanan, akhirnya pun sepupu saya Kevin dan adik organisasi saya Deny menyetujui perjalanan itu. Ini adalah pendakian Gunung pertama saya dan Kevin, Hanz agak terkejut mendengar hal itu. Dia kira saya sudah beberapa kali mendaki padahal tidak. Sebenarnya saya agak memaksa Hanz untuk ikut, mengingat ini akan menjadi pendakian ke Gunung Sibayak yang keempat kali baginya. Tapi tak apa, latih latihan barangkali dia menang di Jawa dan ingin langsung mendaki Bromo saya bilang padanya.
                Minggu, 21 April 2019 adalah hari Paskah sekaligus Hari Kartini, sepulang dari Gereja, saya pun segera berkabar dengan Hanz dan Kevin, oiya Deny akan berangkat dari Medan dan akan bertemu dengan kami di Tugu Perjuangan. Ntah kenapa, kali ini saya merasa berat sekali meninggalkan rumah, tapi kami harus mendaki pikir saya. Untuk menghemat waktu pun saya mengendarai mobil ke Terminal Pasar Parluasan Pematangsiantar, karena takut akan mendapat bis penuh kalau menunggu di simpang rumah. Dengan rasa berat saya pamit dengan mama dan mengucapkan selamat hari Kartini terlebih dahulu, padahal saya sendiri belum pernah merasa seberat ini berangkat dari rumah jikalau melakukan perjalanan. Sesampai nya di Terminal Parluasan kami naik ke bus Simas, agak kesal karena saya sedang duduk dekat pintu karena merasa kasihan dan risih dengan seorang bapak penjual makanan dan minuman yang cukup memaksa, akhirnya saya pun pindah bangku sebelum bis berangkat. Sepanjang perjalanan saya memilih untuk tidur, karena malamnya saya begadang dan harus bangun pagi untuk ibadah subuh. Sesampai di saribudolok saya pun bangun dari tidur, dari situ pula supir bis mulai gila membawa kendaraannya, ntah apa yang ia dan si kernet pikirkan, bis sudah penuh tapi masih saja menampung penumpang dan memaksa anak anak muda duduk di atap bis ditambah gaya nya membawa bis yang ugal ugalan, bahaya sekali pikir saya, penumpang perempuan pun beberapa kali saya dengan marah marah kepada sang supir, tapi ia tetap saja tak acuh. Sesampainya di Kaban Jahe kamipun turun dari bis, sebenarnya saya dan Kevin merasa kami kecepatan turunnya, tapi Hanz tetap saja ngotot dan bilang biasa memang turun disitu. Berusaha menghubungi Deny, ternyata dia tidak jadi ikut dan kamipun harus melanjutkan perjalanan bertiga. Kami menaiki angdes Kama dengan perkiraan biaya maksimal 15000 sampai pos 1 dari tempat itu, saya dan kevin pun menyetujui saja karena kami belum paham betul soal rutenya. Diperjalanan si sopir mengatakan untuk sampai ke post satu kami harus menambahi biaya menjadi 20000 per orang untuk membayar ke mandornya karena kami hanya bertiga, kami sudah merasa aneh saat itu, karena bukanlah tugas penumpang untuk memberikan setoran kepada mandor kata kevin yang orang tuanya mantan supir angkot. Karena merasa cukup kesal dan hanz bilang masih jauh maka kami pun mengiyakan saja. Sesampainya di pos satu saya dan kevin benar benar merasa ditipu si supir angdes, ternyata itu pangkalan dia, bukan perpanjangan trayek. Yasudah, tak apa, biar itu menjadi urusannya dengan moralnya pikir saya.

                Untuk memulai pendakian kamipun mendaftar di pos 1 dan membayar retribusi sebesar 10000 pada penjaga pos, sebelum memulai pendakian hal yang paling utama adalah meminta perlindungan pada pemilik alam semesta tentunya. Sepanjang perjalanan dari pos 1 ke pos 2 kamipun banyak bertemu dengan orang orang mengagumkan yang akan turun dari atas, ada yang berseloro, indomaret diatas udah tutup bang katannya, kamipun membalas dengan tawa hangat. Sesampainya di pos dua kami pun mengisi jerigen minum terlebih dahulu untuk persediaan air selama diatas dengan harga 5000 per jerigen.

                Selesai mengisi persediaan air bersih kami pun mulai menanjak ke puncak, jalan mulai sedikit terjal walaupun belum semenantang jalanan yang saya lihat di dokumenter dokumenter di youtube. Sepanjang perjalanan kevin selalu bertanya “masih jauh hanz?” dibalas dengan “udah dekat” oleh hanz. Saya pun teringat dengan sebuah Jurnal perjalanan Fiersa Besari yang menceritakan tentang seorang temannya bernama Ajrin, maka saya pun menyarankan kevin untuk menonton jurnal tersebut setelah turun nantinya, barangkali tidak lagi gampang menyerah. Saya dan hanz pun selalu menyemangati kevin, tidak apa lambat yang penting kita sampai dan tidak menyerah, tujuan sudah didepan mata masa iya kita turun, melanjutkan perjalanan memang jauh tapi turun kebawah lebih jauh lagi, kira kira seperti itu saya memberi semangat kepadanya. Tak terasa jejeran tenda mulai tampak oleh pelupuk mata, kamipun berfoto ria sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke pinggiran danau vulkanik untuk mendirikan tenda, waktu berlalu, langit berubah menjadi gelap.

                Kami menemukan lapak untuk mendirikan tenda, tidak terlalu jauh dari tenda sebelah tetapi suasana cukup sunyi, maklum saja hari yang kami pilih bukanlah hari keramaian. Saat mendirikan tenda sial sekali rasanya, frame nya retak, untung saja kami sudah berbekal tali temali dari pelajaran di pramuka dulu, kami pun mempraktikkan tali temali untuk mendirikan tenda tersebut dan menguatkan frame yang nyaris terbelah dua. Selesai mendirikan tenda kami pun merapikan isi tenda lalu makan. Selesai makan kami beristirahat sejenak, lumayan ada sinyal, bisa dipakai untuk memberi kabar pikir saya. Setelah merasa udara mulai dingin kami pun membuat kopi untuk disesap. Selesai menikmati kehangatan kopi kami pun mencoba mengahabiskan malam lewat bercerita dan berdebat tentang apa saja yang bisa diperdebatkan. Waktu berlarut waktunya untuk tidur…

                Setelah beberapa kali terbangun dalam tidur saya pun terbangun, melihat kevin dan hanz yang masih terlelap saya pun keluar untuk memanaskan tubuh, dan ternyata frame tenda layer kedua kami lepas, wajar saja kami ingin buru buru makan tadi malam sampai lupa membangun tenda dengan benar. Beberapa waktu kemudian kevin dan hanz bangun, dan membantu saya memperbaiki frame tenda. Setelah berbenah di dalam dan luar tenda kami pun segera berangkat mendaki ke puncak, lagi lagi kami harus berjalan lambat karena kevin sudah lama tidak mendaki, jadi gampang capek ditambah lagi dia tidak membawa jaket, sepele sekali saya rasa, hanya saja wajar karena setiap dia kemah semuanya udah tersedia oleh juniornya. Sesampai diatas kami menikmati sekaligus mengambil gambar untuk mengabadikan momen. Puas menikmati di puncak, kami turun kebawah untuk sarapan dan minum kopi, karena kemping kami ini kemping cantik, jadi setiap makan kami diteman ikan asin buatan nyokap dan ikan teri buatan nyokap kevin. kalau setiap camp seperti ini keknya enak juga yaa….




                Selesai bercengkrama dengan pendaki lain kami pun merapikan tenda dan berkemas untuk segera pulang, dengan semangat rindu akan rumah kami merapikan semua peraltan dan mem packing nya ke dalam carier. Setelah selesai packing kami mulai turun kebawah. Karena merasa kesal dengan angkutan Kama kami pun memutuskan untuk jalan kaki sampai tugu perjuangan. Kami kira tidak jauh sampai tugu ternyata sangat jauh, gengsi menghentikan angkot yang sudah beberapa kali lewat di depan kami, kami pun memutuskan untuk terus berjalan kaki sampai tugu perjuangan, berjam jam perjalanan berlalu dengan kata kata udah dekat, kevin pun berseloro, ayo masih sempat kuliah, ternyata ada kevin ada kelas dadakan dan ia tidak tau karena tidak ada sinyal sebelumnya. Sinyal mulai ada saya pun membuka hp, dan ternyata ada masuk kelas untuk ujian susulan, untungnya semua teman yang masih dikampung tidak setuju dan meminta untuk diundur dan untungnya lagi dosen setuju, syukurlah pikir saya. Berjalan terus menerus akhirnya tak terasa kami sampai di tugu perjuangan, kami pun berpisah, hanz kembali ke pematangsiantar, sedangkan saya dan kevin melanjutkan perjalanan ke medan.





                Kita sering kali mengeluh akan hal yang ternyata sudah didepan mata, tak terasa keluhan kita malah membuat proses yang kita lalui terasa sangat lama dan menjenuhkan….
Salam literasi!
Lestari!

4 komentar:

  1. Mantap! πŸ‘
    Btw kapan ngajak mendaki bareng? Belum pernah juga nih Ja wkwkk

    BalasHapus
  2. MantapπŸ‘πŸ‘
    Poto-poto nya juga keren2

    BalasHapus

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com