Mejuah-juah!
Dalam
perjalanan, kita sering kali mengeluhkan apa yang telah kita jalani, padahal
tanpa kita sadari tujuan kita sudah didepan mata.
Terlalu
banyak wacana hingga tak pernah jadi membuat saya kesal di tengah kesibukan
jadwal yang begitu padat. Saya merencanankan perjalanan yang bisa dibilang
ngotot dengan sepupu saya karena sudah hamper 2 bulan tidak melangsungkan
perjalanan, padahal saya akan memasuki minggu yang sangat padat dan akan menguras banyak tenaga. Tapi, saya tahu porsi badan saya dan ini perjalanan saya.
perjalanan, padahal saya akan memasuki minggu yang sangat padat dan akan menguras banyak tenaga. Tapi, saya tahu porsi badan saya dan ini perjalanan saya.
Selepas
libur pemiilu dan paskah saya merencanakan sebuah pendakian dengan sepupu saya,
Hanz. Dengan maksud jika tidak ada lagi kawan kawan yang mau ikut kami akan
tetap berangkat berdua. Mencari cari kawan perjalanan, akhirnya pun sepupu saya
Kevin dan adik organisasi saya Deny menyetujui perjalanan itu. Ini adalah
pendakian Gunung pertama saya dan Kevin, Hanz agak terkejut mendengar hal itu.
Dia kira saya sudah beberapa kali mendaki padahal tidak. Sebenarnya saya agak
memaksa Hanz untuk ikut, mengingat ini akan menjadi pendakian ke Gunung Sibayak
yang keempat kali baginya. Tapi tak apa, latih latihan barangkali dia menang di
Jawa dan ingin langsung mendaki Bromo saya bilang padanya.
Minggu,
21 April 2019 adalah hari Paskah sekaligus Hari Kartini, sepulang dari Gereja,
saya pun segera berkabar dengan Hanz dan Kevin, oiya Deny akan berangkat dari
Medan dan akan bertemu dengan kami di Tugu Perjuangan. Ntah kenapa, kali ini
saya merasa berat sekali meninggalkan rumah, tapi kami harus mendaki pikir
saya. Untuk menghemat waktu pun saya mengendarai mobil ke Terminal Pasar
Parluasan Pematangsiantar, karena takut akan mendapat bis penuh kalau menunggu
di simpang rumah. Dengan rasa berat saya pamit dengan mama dan mengucapkan
selamat hari Kartini terlebih dahulu, padahal saya sendiri belum pernah merasa
seberat ini berangkat dari rumah jikalau melakukan perjalanan. Sesampai nya di
Terminal Parluasan kami naik ke bus Simas, agak kesal karena saya sedang duduk
dekat pintu karena merasa kasihan dan risih dengan seorang bapak penjual
makanan dan minuman yang cukup memaksa, akhirnya saya pun pindah bangku sebelum
bis berangkat. Sepanjang perjalanan saya memilih untuk tidur, karena malamnya
saya begadang dan harus bangun pagi untuk ibadah subuh. Sesampai di saribudolok
saya pun bangun dari tidur, dari situ pula supir bis mulai gila membawa
kendaraannya, ntah apa yang ia dan si kernet pikirkan, bis sudah penuh tapi
masih saja menampung penumpang dan memaksa anak anak muda duduk di atap bis
ditambah gaya nya membawa bis yang ugal ugalan, bahaya sekali pikir saya,
penumpang perempuan pun beberapa kali saya dengan marah marah kepada sang
supir, tapi ia tetap saja tak acuh. Sesampainya di Kaban Jahe kamipun turun
dari bis, sebenarnya saya dan Kevin merasa kami kecepatan turunnya, tapi Hanz
tetap saja ngotot dan bilang biasa memang turun disitu. Berusaha menghubungi
Deny, ternyata dia tidak jadi ikut dan kamipun harus melanjutkan perjalanan
bertiga. Kami menaiki angdes Kama dengan perkiraan biaya maksimal 15000 sampai
pos 1 dari tempat itu, saya dan kevin pun menyetujui saja karena kami belum
paham betul soal rutenya. Diperjalanan si sopir mengatakan untuk sampai ke post
satu kami harus menambahi biaya menjadi 20000 per orang untuk membayar ke
mandornya karena kami hanya bertiga, kami sudah merasa aneh saat itu, karena
bukanlah tugas penumpang untuk memberikan setoran kepada mandor kata kevin yang
orang tuanya mantan supir angkot. Karena merasa cukup kesal dan hanz bilang masih
jauh maka kami pun mengiyakan saja. Sesampainya di pos satu saya dan kevin
benar benar merasa ditipu si supir angdes, ternyata itu pangkalan dia, bukan
perpanjangan trayek. Yasudah, tak apa, biar itu menjadi urusannya dengan
moralnya pikir saya.
Untuk
memulai pendakian kamipun mendaftar di pos 1 dan membayar retribusi sebesar
10000 pada penjaga pos, sebelum memulai pendakian hal yang paling utama adalah
meminta perlindungan pada pemilik alam semesta tentunya. Sepanjang perjalanan
dari pos 1 ke pos 2 kamipun banyak bertemu dengan orang orang mengagumkan yang
akan turun dari atas, ada yang berseloro, indomaret diatas udah tutup bang
katannya, kamipun membalas dengan tawa hangat. Sesampainya di pos dua kami pun
mengisi jerigen minum terlebih dahulu untuk persediaan air selama diatas dengan
harga 5000 per jerigen.
Selesai
mengisi persediaan air bersih kami pun mulai menanjak ke puncak, jalan mulai
sedikit terjal walaupun belum semenantang jalanan yang saya lihat di dokumenter
dokumenter di youtube. Sepanjang perjalanan kevin selalu bertanya “masih jauh
hanz?” dibalas dengan “udah dekat” oleh hanz. Saya pun teringat dengan sebuah
Jurnal perjalanan Fiersa Besari yang menceritakan tentang seorang temannya
bernama Ajrin, maka saya pun menyarankan kevin untuk menonton jurnal tersebut
setelah turun nantinya, barangkali tidak lagi gampang menyerah. Saya dan hanz
pun selalu menyemangati kevin, tidak apa lambat yang penting kita sampai dan
tidak menyerah, tujuan sudah didepan mata masa iya kita turun, melanjutkan perjalanan
memang jauh tapi turun kebawah lebih jauh lagi, kira kira seperti itu saya
memberi semangat kepadanya. Tak terasa jejeran tenda mulai tampak oleh pelupuk
mata, kamipun berfoto ria sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke pinggiran
danau vulkanik untuk mendirikan tenda, waktu berlalu, langit berubah menjadi
gelap.
Kami
menemukan lapak untuk mendirikan tenda, tidak terlalu jauh dari tenda sebelah
tetapi suasana cukup sunyi, maklum saja hari yang kami pilih bukanlah hari
keramaian. Saat mendirikan tenda sial sekali rasanya, frame nya retak, untung
saja kami sudah berbekal tali temali dari pelajaran di pramuka dulu, kami pun
mempraktikkan tali temali untuk mendirikan tenda tersebut dan menguatkan frame
yang nyaris terbelah dua. Selesai mendirikan tenda kami pun merapikan isi tenda
lalu makan. Selesai makan kami beristirahat sejenak, lumayan ada sinyal, bisa
dipakai untuk memberi kabar pikir saya. Setelah merasa udara mulai dingin kami
pun membuat kopi untuk disesap. Selesai menikmati kehangatan kopi kami pun
mencoba mengahabiskan malam lewat bercerita dan berdebat tentang apa saja yang
bisa diperdebatkan. Waktu berlarut waktunya untuk tidur…
Setelah
beberapa kali terbangun dalam tidur saya pun terbangun, melihat kevin dan hanz
yang masih terlelap saya pun keluar untuk memanaskan tubuh, dan ternyata frame
tenda layer kedua kami lepas, wajar saja kami ingin buru buru makan tadi malam
sampai lupa membangun tenda dengan benar. Beberapa waktu kemudian kevin dan
hanz bangun, dan membantu saya memperbaiki frame tenda. Setelah berbenah di
dalam dan luar tenda kami pun segera berangkat mendaki ke puncak, lagi lagi
kami harus berjalan lambat karena kevin sudah lama tidak mendaki, jadi gampang
capek ditambah lagi dia tidak membawa jaket, sepele sekali saya rasa, hanya
saja wajar karena setiap dia kemah semuanya udah tersedia oleh juniornya. Sesampai
diatas kami menikmati sekaligus mengambil gambar untuk mengabadikan momen. Puas
menikmati di puncak, kami turun kebawah untuk sarapan dan minum kopi, karena
kemping kami ini kemping cantik, jadi setiap makan kami diteman ikan asin
buatan nyokap dan ikan teri buatan nyokap kevin. kalau setiap camp seperti ini
keknya enak juga yaa….
Selesai
bercengkrama dengan pendaki lain kami pun merapikan tenda dan berkemas untuk
segera pulang, dengan semangat rindu akan rumah kami merapikan semua peraltan
dan mem packing nya ke dalam carier. Setelah selesai packing kami mulai turun
kebawah. Karena merasa kesal dengan angkutan Kama kami pun memutuskan untuk
jalan kaki sampai tugu perjuangan. Kami kira tidak jauh sampai tugu ternyata
sangat jauh, gengsi menghentikan angkot yang sudah beberapa kali lewat di depan
kami, kami pun memutuskan untuk terus berjalan kaki sampai tugu perjuangan,
berjam jam perjalanan berlalu dengan kata kata udah dekat, kevin pun berseloro,
ayo masih sempat kuliah, ternyata ada kevin ada kelas dadakan dan ia tidak tau
karena tidak ada sinyal sebelumnya. Sinyal mulai ada saya pun membuka hp, dan
ternyata ada masuk kelas untuk ujian susulan, untungnya semua teman yang masih
dikampung tidak setuju dan meminta untuk diundur dan untungnya lagi dosen
setuju, syukurlah pikir saya. Berjalan terus menerus akhirnya tak terasa kami
sampai di tugu perjuangan, kami pun berpisah, hanz kembali ke pematangsiantar,
sedangkan saya dan kevin melanjutkan perjalanan ke medan.
Kita
sering kali mengeluh akan hal yang ternyata sudah didepan mata, tak terasa
keluhan kita malah membuat proses yang kita lalui terasa sangat lama dan
menjenuhkan….
Salam literasi!
Lestari!





Mantap! π
BalasHapusBtw kapan ngajak mendaki bareng? Belum pernah juga nih Ja wkwkk
terimakasih, tinggal direncanain aja
HapusMantapππ
BalasHapusPoto-poto nya juga keren2
terimakasih, semoga menginspirasi
Hapus